Skip to main content

Rupiah Lanjut Melemah

Rupiah melanjutkan tren pelemahan untuk pelunasan pajak (kurs beli) periode 19-25 Desember 2018. Pelemahan rupiah berlaku terhadap sejumlah mata uang mitra dagang utama Indonesia.
Untuk satu pekan ke depan nilai kurs pajak untuk setiap U$1 dipatok pada angka Rp14.581. Posisi ini naik dari pekan lalu yang berada di level Rp14.447 per dolar AS.


Dolar Australia juga mencatat kenaikan setelah turun pekan lalu. Untuk satu pekan ke depan angkanya berada di level Rp10.496,87 per dolar Australia, atau naik tipis dari pekan sebelumnya yang berada di angka Rp10.478,26. Baca lanjutannya hanya di News DDTC bertajuk Pelemahan Rupiah Berlanjut

Comments

Popular posts from this blog

Capital Gains Tax Menimbang Penerapannya

ASET orang-orang terkaya di Indonesia kian meningkat nilainya dari tahun ke tahun. Kendati demikian, kontribusi konglomerat dalam negeri masih minim terhadap penerimaan pajak nasional. Padahal, kekayaan bisa jadi adalah akumulasi dari penghasilan yang tidak dikonsumsi. Fenomena ini juga terjadi di hampir semua negara di dunia. Untuk itu, banyak negara yang menerapkan pajak atas kekayaan, seperti pajak properti, pajak warisan, dan pajak atas keuntungan pengalihan aset atau disebut dengan  capital gains tax .

Januari 2019, Proposal Ekonomi Digital Diperbarui Oleh OECD

Pada akhir Januari 2019, OECD’s  Task Force on the Digital Economy  (TFDE) akan merilis  tiga proposal baru terkait aspek pemajakan ekonomi digital. Sebagaimana dimuat dalam  Tax Notes International , TFDE akan mengelompokkan ketiga proposal yang tersebut menjadi dua pilar. Proposal yang dikelompokkan oleh TFDE ke dalam pilar pertama adalah proposal yang berkaitan dengan alokasi hak pemajakan berdasarkan faktor keterhubungan suatu negara terhadap kegiatan ekonomi digital yang berlangsung di negara tersebut ( nexus ). Sementara itu, proposal yang dikelompokkan ke dalam pilar kedua adalah proposal yang membahas tentang beberapa jenis tarif pajak minimum yang potensial untuk dapat dikenakan terhadap suatu penghasilan.

Perlu 4 Syarat Ini untuk Genjot Ekonomi Lewat Pariwisata

Prospek ekonomi pada tahun 2019 diprediksi tidak akan secerah tahun sebelumnya. Faktor domestik menjadi satu-satunya sandaran untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional. Kepala Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Agus Eko Nugroho mengatakan indikator konsumsi menjadi tumpuan untuk mengerek ekonomi 2019. Karena itu, sektor pariwisata dinilai masih mempunyai ruang luas untuk dikembangkan.